Site icon www.klikjo.id

Warga Kampung Ifale Lestarika Tradisi Menggeuw Fafa

Foto: Nampak sejumlah utusan warga masyarakat Kampung Ifale melakukan tarian Khaley Star dari Dermaga Kampung Harapan (Kalkote) menuju Kampung Ifale dalam rangka kegiatan tradisi tahunan.(ARS)

JAYAPURA, Klikjo.id –Masyarakat Kampung Ifale kembali menggelar tradisi tahunan Menggeuw Fafa sebagai ungkapan syukur menyambut Tahun Baru 2026 sekaligus penghormatan kepada para leluhur.

Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun sebagai momentum penting  warga, baik orang tua, pemuda, maupun anak-anak, dan terlibat aktif dalam setiap rangkaian kegiatan adat.

Salah satu prosesi yang menarik perhatian adalah tarian penjemputan tamu, yakni tarian Khaley, yang ditampilkan di atas perahu yang dirancang menyerupai panggung dan bergerak di perairan Danau Sentani.

Tarian tersebut menjadi simbol penyambutan sekaligus kebersamaan masyarakat Ifale.

Tua adat Abuafa Khamboimee Monim, Saskar Monim, menjelaskan bahwa Menggeuw Fafa merupakan tradisi khusus bagi keturunan Kampung Ifale yang datang menghadiri perayaan tahunan.

Dalam pelaksanaannya, saudara laki-laki dari garis ibu memiliki tanggung jawab menyediakan berkat berupa makanan, minuman, serta kebutuhan lainnya untuk dibawa pulang oleh anak-anak Menggeuw Fafa.

“Setiap marga memiliki tanggung jawab masing-masing dalam menyediakan berkat bagi keturunannya, seperti marga Monim, Suebu, Yom, Hokoyoku, dan Hokoyabi,” ujarnya.

Ia juga menuturkan, berdasarkan cerita turun-temurun, moyang masyarakat Ifale berasal dari arah timur, tempat terbitnya matahari, yang dalam sebutan lokal dikenal sebagai Huliyorajo.

Perjalanan leluhur disebutkan bermula dari wilayah Engros Holtekam, kemudian berpindah ke Tobati, menyusuri tepian danau, hingga akhirnya menetap di Kampung Ifale.

“Kisah ini diwariskan dari generasi ke generasi, bukan sekadar cerita yang dibuat-buat,” tegas Saskar.

Sementara itu, tokoh pemuda Kampung Ifale, Alva Yom, mengungkapkan rasa syukur karena tradisi tahunan tersebut tetap dapat terlaksana meski sempat tertunda dari jadwal semula pada Januari.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada koordinator kegiatan, Rendi Ralven Suebu, atas dukungannya sehingga acara dapat berjalan lancar.

Menurut Alva, Menggeuw Fafa bukan sekadar seremoni adat, tetapi merupakan bagian dari jati diri dan harga diri masyarakat Kampung Ifale. Karena itu, generasi muda berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.

Selain sebagai warisan budaya, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi bagi warga Ifale yang tinggal di luar kampung agar tetap terhubung sebagai satu keluarga besar.

“Harapan kami, nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur tetap dijaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya, sehingga tradisi Menggeuw Fafa terus hidup sepanjang masa,” pungkasnya.(ARS)

Exit mobile version