Menurut Yusuf, Bupati Jayapura Dr. Yunus Wonda SH, MH, telah menginstruksikan agar seluruh perangkat daerah mendukung penuh pelaksanaan program, sekaligus mengutamakan penggunaan bahan pangan lokal.
“Pesan Bupati jelas: kita harus mendukung penuh program ini, dan memastikan belanja dapur MBG menggunakan hasil produksi masyarakat lokal,” katanya.

Sementara itu, perwakilan SPPG, Ruth, menjelaskan bahwa Kabupaten Jayapura masih melengkapi sejumlah syarat kelayakan, termasuk fasilitas dapur dan sertifikasi tenaga pengolah makanan.
“Ada yang baru memiliki sertifikat SLHS, ada juga yang baru memiliki chef bersertifikat. Semuanya masih dalam proses pemenuhan standar,” jelasnya.
Untuk menu makanan, satu porsi senilai Rp13.000 mencakup karbohidrat, lauk hewani, sayur, buah, dan susu. Namun, di wilayah Papua, pemberian susu tidak diwajibkan setiap hari.
“Idealnya susu yang diberikan adalah susu murni. Karena di Papua belum ada pengelolaan susu murni, sementara susu kemasan kandungan gulanya tinggi, maka kami berikan satu hingga dua kali seminggu,” tambah Ruth.
Hingga kini, program MBG di Kabupaten Jayapura telah menjangkau sekitar 3.000 penerima manfaat, terdiri dari 2.500 siswa serta 500 penerima dari kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita).
“Fokus utama Program MBG adalah pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga anak usia dini,” tutup Ruth.(ARS)

Tinggalkan Balasan