*Tekanan Medical Inflation*


Medical inflationatau inflasi di sektor kesehatan merupakan fenomena dimana kenaikan biaya pelayanan kesehatan terjadi lebih cepat daripada inflasi umum. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penemuan teknologi dan obat-obatan baru yang harganya mahal, kenaikan biaya tenaga kesehatan, dan peningkatan standar pelayanan.

Di Indonesia, medical inflation dilaporkan dapat mencapai 10-15% per tahun, sementara kenaikan tarif INA-CBGs tidak selalu mengimbangi laju ini (Fahmi, 2018). Kondisi ini menyebabkan kesenjangan (gap) antara biaya yang ditanggung RS dan penggantian dari BPJS, yang pada akhirnya dapat menggerogoti kesehatan finansial RS dan berpotensi menurunkan kualitas pelayanan.

*Penerapan Real Cost Pelayanan di Rumah Sakit*

Menghadapi tantangan di atas, langkah strategis dan fundamental yang harus diambil oleh setiap RS adalah dengan secara akurat menentukan dan menerapkan real cost (biaya riil) dari setiap pelayanan yang diberikan. Konsep real cost melampaui biaya langsung seperti obat dan alat; ia mencakup seluruh komponen biaya tidak langsung, seperti penyusutan peralatan, biaya overhead (listrik, air, administrasi), dan biaya tenaga kerja.

Penerapan real cost memberikan beberapa manfaat krusial:

1. Dasar Negosiasi yang Kuat: Dengan data real cost yang akurat dan terverifikasi, RS dapat bernegosiasi dengan BPJS untuk meninjau dan menyesuaikan tarif INA-CBGs yang lebih realistis. Data ini menjadi dasar dialog yang berbasis bukti, bukan sekadar keluhan.


2. Identifikasi Inefisiensi: Proses penghitungan real cost memaksa RS untuk memetakan alur pelayanan dan mengidentifikasi titik-titik pemborosan. Hal ini membuka peluang untuk perbaikan proses, standardisasi protokol klinis, dan pengoptimalan penggunaan sumber daya.


3. Kendali Mutu dan Biaya yang Terintegrasi: Memahami biaya riil memungkinkan RS untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif. RS dapat berfokus pada pelayanan yang bernilai tinggi (high-value care), yaitu pelayanan yang memberikan outcome klinis terbaik dengan biaya yang optimal. Dengan demikian, kendali biaya tidak dilakukan dengan mengorbankan kendali mutu, justru sebaliknya, keduanya berjalan beriringan.


4. Penguatan Sistem Manajemen RS: Penerapan real cost merupakan bagian dari good hospital governance. Sistem ini meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan perencanaan keuangan RS yang lebih baik.