Menurutnya, sagu merupakan komoditas alami khas Papua dengan keunggulan regenerasi cepat.
“Satu pohon ditebang bisa muncul sekitar 12 tunas baru. Artinya, kita memiliki sumber daya yang berkelanjutan,” katanya.

Ia menilai selama ini kerja antar-OPD masih parsial. Karena itu, Pemprov mendorong satu tema besar pengembangan sagu dengan pembagian peran jelas, melibatkan sektor perkebunan, pertanian, perindustrian, perdagangan, hingga koperasi dan UMKM.
Pemerintah juga menyediakan layanan sertifikasi, perizinan, dan legalitas usaha secara gratis.
Thesia menyebut pasar potensial produk sagu Papua saat ini menyasar Jepang, Australia, dan Jerman. “Kami menemukan gap produksi. Kapasitas bisa mencapai 13 ribu, sementara kebutuhan mitra sekitar dua ton. Peluangnya masih sangat besar,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah berencana membangun rumah produksi sagu masing-masing satu unit di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Waropen sebagai sentra pengolahan.

Tinggalkan Balasan