Hendra Lapian Tokoh Muda Masyarakat Minsel (foto:ojer)

Jakarta,KLIKJO.ID–Berkurangnya Dana Desa sejatinya bukan bencana pembangunan, melainkan ujian kepemimpinan.Hal ini ditegaskan Hendra Lapian tokoh muda masyarakat Minahasa Selatan (Minsel).

Menurutnya penyusutan dana desa membuka panggung seleksi alam yang keras namun adil.

“Desa yang inovatif dan kreatif mungkin terguncang, tetapi tidak tumbang. Mereka mencari celah, membaca potensi, dan memutar otak. Sebaliknya, desa yang selama ini hidup dari rutinitas mengulang kegiatan yang sama dari tahun ke tahun, menumpuk beton tanpa menumbuhkan kemandirian pasti panik dan kebingungan, seolah kehilangan arah begitu angka dipangkas, ” ujarnya.

Di titik ini, kepala desa diuji bukan dari tebalnya laporan serapan anggaran, melainkan dari tajam-tumpulnya gagasan. Kepala desa yang rajin menghabiskan uang negara, namun enggan berpikir bagaimana desa bisa menghasilkan pendapatan sendiri, kini kelimpungan.

“Fakta sederhana pun terbuka tidak semua yang pandai belanja mampu bekerja. Tidak semua yang rajin membagi bantuan memahami cara mencipta sumber penghidupan, ” tukasnya.

Menurutnya pun, jika saat ini ada oknum kepala desa yang pintar melempar isu ke masyarakat bahwa pembangunan tersendat akibat recofusing dana desa dari pemerintah pusat itu layak diperiksa.

“Pembangunan nasional bukan hanya berkutat soal dana desa, terjadi pemangkasan anggaran tak lepas dari temuan banyaknya kegiatan desa yang hanya menghamburkan uang dan memperkaya kantong oknum, oleh karena itu inspektorat harus turun, jika lemah kejaksaan pun bisa masuk berbasis pengawasan sampai ke penegakan hukum, ” tutupnya.

(Roger)