Foto: Ondoafi Kampung Dosai Silas, Oiseay Daimoe dan Kepala Suku Keanau Obe Imeas, Markus Dike.
Sentani, KLIKJO.ID – Dondai Yo Man Yo, bahasa Kampung ini menceriterakan keberadaan masyarakat adat Kampung Dondai atau Komunitas masyarakat adat yang hidup dengan tradisi budaya mengikat satu sama lain dari tiga kampung yakni Dondai, Yakonde dan Sosiri.
Ungkapan ini pula menjadi filosofi model atap rumah adat (Obhe Buro Ongko Obhe) yang terbagi atas tiga terap.
Secara turun temurun, Kampung Dondai, Yakonde dan Sosiri adalah saudara sekandung. Untuk itu, rumah adatnya dibuat sebagai simbol penyatuan, artinya hanya satu tempat musyawarah tentang adat istiadat, termasuk perang, dan lain- lain.
“Kebiasaan yang diwariskan turun temurun ini menjadi panduan keberlangsungan hidup masyarakat Dondai dari turun temurun hingga sekarang ini,” ujar Ondoafi Kampung Dosai melalui juru bicaranya, Kepala Suku Keunau, Markus Dike.
Ditambahkan, ornamen budaya sebagai kearifan lokal masih dipertahankan sebagai identitas keaslian budaya, berbagai simbol suku diukir pada tiang Rumah adat Obhe Buro Ongko.
Masyarakat Kampung Adat Dondai terdiri dari lima Kepala Suku, Silas Oiseay Daimoe, Ondoafi dengan mata rumah dari Buri Imea, Markus Dike (Kepala Suku Keunau Obe Imea ), Agus Daimoe (Kepala Suku Kiori Babiri Imea), Stevanus Dike (Kepala Suku Keunau Babiri Imea ), dan Prengki Yakob Daimoe (Kepala Suku Teisukuru).
Ditambahkan, jumlah Penduduk di Kampung Dondai ada 138 kepala keluarga jumlah jiwa berkisar 400-500, Masyarakat Dondai rata-rata nelanyan dan berkebun.
Menurut, Markus Dike, catatan sejarah masa lampau begitu panjang. Perjalanan masyarakat asli Dondai bersama masyarakat adat di sekitar dari Laut yang berjalan hingga masuk ke danau Sentani.
Banyak bukti sejarah diberbagai tempat, seperti di Kayo Pulau dan sekitarnya.
Sampai sekarang kami menjaga tradisi saling menghargai dan menghormati itu muncul dari struktur pemerintahan asli.
“Ondofolo dan Khoseyo, adalah satu kesatuan dalam sistem pemerintahan masyarakat hukum adat. Masing-masing menjalankan tugas dan fungsi serta bertanggung jawab penuh dari Ondoafi. Hal ini menjadi contoh bagi masyarakat adat itu sendiri, hingga sekarang,” ungkap Markus Dike.
Dijelaskan, antara Ondoafi dan kepala suku sudah tidak saling menghargai, maka disitu dasar dari pada kemerosotan nilai budaya sehingga diikuti generasi berikutnya.
“Kami bangga, karena negara sampai hari ini menghargai masyarakat adat dalam Negara, itu berarti kami Masih dihormati dan dihargai,” tutup Markus Dike.(Arifin)

Tinggalkan Balasan