Bullying dan Dugaan Pengeroyokan Terhadap Siswi SMP ” Tembus” Kejaksaan

Hukrim, Minsel54 Dilihat

Foto: Tersangka, Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan Kasat Reskrim Polres Minsel, AKP Rio Gumara SIk

MINSEL, KLIKJO.ID—Kasus  bullying dan dugaan penganiayaan secara bersama-sama terhadap sisiwi salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Minahasa Selatan (Minsel), sebut saja Bretney (16) – nama samaran, warga salah satu desa di kecamatan Amurang Timur, “tembus’ ke Kejaksaan alias P21.

Asal tahu saja  bullying dan dugaan penganiayaan secara bersama yang sempat viral di media sosial  itu terjadi pada awal 2019 silam.  Dalam kasus ini polisi menetapkan 6 (enam) tersangka  berinisial PJ alias Pingkan (19), YJ alias Yudea (16), SM alias Syeren (16), RS alias Reva (16), NM alias Nadiva dan RE alias Rinsly (17).  Akibatnya korban mengalami luka-luka disekujur tubunya dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit.

Peritiwa itu terjadi di Desa Lopana Kecamatan Amurang Timur. Saat itu tersangka dan korban masih berstatus sebagai siswi SMP dan ada juga siswi SMA. Aksi pengeroyokan ini diduga lantaran selisih paham chatting di media sosial Facebook. Akhirnya keenam tersangka meminta bertemu dengan korban. Setelah itu terjadilah dugaan penganiayaan secara bersama yang mengakibatkan korban dianiaya secara bersama dan bergantian.

Kapolres Minsel AKBP S. Norman Sitindaon SIK melalui Kasat Reskrim AKP Rio Gumara SIK kepada wartawan Selasa (09/03/2021) siang mengatakan, kasus ini menjadi atensi untuk secepatnya diungkap dan dilimpahkan ke pihak kejaksaan.

“Sempat diupayakan diversi atau penyelesaian perkara diluar peradilan pidana dari pihak Bapas (Balai Pemasyarakatan), namun pihak keluarga korban meminta untuk tetap dilanjutkan dalam proses hukum,” ujar  Gumara.

Ditambahkan, saat ini Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sudah selesai dan dilimpahkan ke pihak kejaksaan alias P21. Untuk tahap II masih ada kendala, karena tersangka belum lengkap. Dimana  satu tersangka  berada di luar daerah dan  akan segera jemput. Kalau semua sudah lengkap, akan disusul dengan penyerahan tersangka dan barang bukti alias tahap II.

“Para tersangka melanggar pasal 80 ayat 1 jo pasal 76c UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda 100 juta rupiah,” tegasnya.(gigs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.