Dari jumlah tersebut, baru satu gerai yang progres pembangunannya mendekati 50 persen.
“Setelah kembali ke Papua, kami akan melakukan peninjauan langsung ke lapangan untuk memastikan progres pembangunan gerai Koperasi Merah Putih,” ujar Fakhiri.

Ia menekankan, ketersediaan lahan yang bebas dari persoalan menjadi syarat utama pembangunan gerai koperasi. Setiap gerai membutuhkan lahan minimal seluas 1.000 meter persegi agar dapat berfungsi optimal.
Menurut Fakhiri, Koperasi Merah Putih merupakan instrumen penting dalam mempercepat peningkatan ekonomi masyarakat kampung. Setiap gerai akan dilengkapi klinik, toko serbaguna, serta gudang sebagai pusat distribusi dan pelayanan.
Melalui koperasi tersebut, petani dapat menjual hasil pertanian ke koperasi untuk ditampung di gudang dan selanjutnya disalurkan ke Bulog. Masyarakat juga dapat memperoleh kebutuhan pokok langsung melalui gerai koperasi di kampung masing-masing.
Program Koperasi Merah Putih juga terintegrasi dengan program penyediaan listrik desa dari pemerintah pusat, sehingga diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Papua menargetkan Koperasi Merah Putih hadir di seluruh sembilan kabupaten/kota di Papua. Program ini diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi petani, nelayan, pelaku perkebunan, serta UMKM, sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Tinggalkan Balasan