Di Kampung Wamesa, Kabupaten Kaimana, pembangunan dilakukan dengan tantangan geografis dan cuaca ekstrem.

Distribusi material ditempuh melalui jalur darat dan laut dengan waktu perjalanan 40–60 menit, dan mengurai rantai pasok dari sumber lokal seperti sayur mayur, ikan, daging rusa, dan buah.

“Sebagian bahan pokok didatangkan dari Surabaya, seperti beras, ayam, telur, dan susu. Mudah-mudahan SPPG di sini dapat berjalan baik melayani masyarakat,” ujar Wakapolda Papua Barat.

Calon penerima manfaat di Kampung Wamesa meliputi siswa TK dan SD, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

Anak-anak di SD YPK Betlehem Wamesa bahkan menyampaikan terima kasih dan harapan agar dapur MBG segera beroperasi di sekolah mereka.

Dari Kalimantan Selatan, Polda setempat melaporkan pembangunan 35 SPPG, termasuk 10 di daerah terpencil dan pondok pesantren.

Pengelolaan keamanan pangan dilakukan secara komprehensif, mulai dari deteksi alergen, pengawasan kesehatan oleh dokter kepolisian, hingga pengolahan limbah menjadi eco-enzyme dan pakan ternak.

Sementara itu, Polda Jawa Tengah tercatat sebagai polda dengan jumlah SPPG terbanyak.