Perjalanan leluhur disebutkan bermula dari wilayah Engros Holtekam, kemudian berpindah ke Tobati, menyusuri tepian danau, hingga akhirnya menetap di Kampung Ifale.

“Kisah ini diwariskan dari generasi ke generasi, bukan sekadar cerita yang dibuat-buat,” tegas Saskar.

Sementara itu, tokoh pemuda Kampung Ifale, Alva Yom, mengungkapkan rasa syukur karena tradisi tahunan tersebut tetap dapat terlaksana meski sempat tertunda dari jadwal semula pada Januari.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada koordinator kegiatan, Rendi Ralven Suebu, atas dukungannya sehingga acara dapat berjalan lancar.

Menurut Alva, Menggeuw Fafa bukan sekadar seremoni adat, tetapi merupakan bagian dari jati diri dan harga diri masyarakat Kampung Ifale. Karena itu, generasi muda berkomitmen untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.

Selain sebagai warisan budaya, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi bagi warga Ifale yang tinggal di luar kampung agar tetap terhubung sebagai satu keluarga besar.

“Harapan kami, nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur tetap dijaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya, sehingga tradisi Menggeuw Fafa terus hidup sepanjang masa,” pungkasnya.(ARS)