“Kami Cari Nafkah, Bukan Preman!”
Foto : Michael Lantu alias Pato (Ist)
RATATOTOK, Klikjo.id –Isu viral di media sosial (medsos) yang menyebut adanya “preman bayaran suruhan Ci Dede” menuai reaksi keras dari para pekerja tambang di Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara.
Puluhan pekerja di lokasi tambang membantah keras tudingan itu. Bahkan, menilai narasi yang beredar di akun palsu media sosial telah mencoreng martabat pekerja yang hanya mencari nafkah untuk keluarga.
Salah satu pekerja tambang, Michael Lantu alias Pato, mengaku kecewa dengan tuduhan sebagai preman bayaran.
“Kami ini bukan preman. Kami hanya pekerja kasar, mencari berkat untuk memberi makan istri dan anak-anak. Masa dibilang preman bayaran? Ini bukan hanya tidak sopan, tapi juga melecehkan martabat kami,” tegas Pato saat jumpa sua dengan media ini.
Menurut Pato, kondisi pekerja tambang di lokasi milik Ci Dede sama seperti pekerja tambang lainnya di berbagai wilayah. Mereka bekerja secara normal demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Apa bedanya kami dengan pekerja tambang di tempat lain? Semua pekerja. Tidak ada preman. Ini bukan tambang zaman dulu. Kami cari makan dengan cara baik-baik, tapi malah dituduh macam-macam,” ujarnya.
Stop Sebar Isu Menyesatkan
Selain itu, Pato meminta oknum tak bertanggungjawab berhenti menyebarkan informasi yang menyesatkan. Ia menegaskan isu itu justru bisa mengganggu iklim usaha pertambangan dan berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar.
Menurutnya, media seharusnya ikut menciptakan suasana yang kondusif, bukan memperkeruh keadaan dengan informasi yang belum ada verifikasi.
“Alangkah baiknya media mendukung iklim usaha agar ekonomi masyarakat meningkat. Bukan asal menulis berita lalu posting di medsos tanpa fakta yang jelas,” katanya.
Lebih lanjut, Pato juga meminta agar jangan mengaitkan nama Ci Dede dengan persoalan pribadi pihak tertentu.
“Jangan lagi bawa-bawa nama Ci Dede. Kalau ada yang tidak suka dengan pekerjaan saya pribadi, silakan ketemu langsung dengan saya. Jangan bawa nama orang lain,” tandasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, belum tahu siapa pemilik akun palsu yang pertama kali menyebarkan narasi di media sosial. Namun, isu itu sempat ramai di jejaring sosial sebelum akhirnya ada klarifikasi langsung dari para pekerja tambang di Ratatotok.
(Roger)

Tinggalkan Balasan