Foto: Founder Yayasan Colo Sagu, juga Kapolresta Jayapura, Kombes Pol Fredrickus WA Maclarimboen, bersama Co-Founder Michael Jhon Yarisetouw.(Ist)

JAYAPURA, Klikjo.id —Jelang Festival Colo Sagu (FCS) 2026  di Kota Jayapura. Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus WA Maclarimboen SIK, MH, CPHR mengajak warga selamatkan sagu dari alih fungsi lahan.

“Kegiatan ini memperkuat pelestarian pangan lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sagu,” ujar Kapolresta, di Jayapura pada Selasa (16/6/2026).

Salain itu, kegiatan ini merupakan iniiasi Yayasan Colo Sagu. Dan akan berlangsung selama tiga hari, 19 hingga 21 Juni 2026, di area belakang Gedung DPR Papua, Kota Jayapura.

Dengan  tema “Sagu Menghidupi dari Tradisi Menuju Kemandirian Ekonomi”. Ini menegaskan peran strategis sagu sebagai identitas budaya masyarakat Papua, sumber ketahanan pangan, sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.

Founder Yayasan Colo Sagu yang juga Kapolresta Jayapura Kota, bersama Co-Founder Michael Jhon Yarisetouw menegaskan, FCS bukan sekadar agenda budaya tahunan.

Menjaga Keberlangsungan Sagu di Papua

Namun sebagai gerakan bersama untuk menjaga keberlangsungan sagu di Tanah Papua.

Co-Founder Festival Colo Sagu, Michael Jhon Yarisetouw, mengatakan akan mengemas kegiatan yang lebih edukatif dan interaktif. Sehingga, masyarakat  memahami pentingnya menjaga dan memanfaatkan sagu.

Menurutnya, Festival Colo Sagu menjadi ruang kolaborasi bagi masyarakat, akademisi, pelaku UMKM, hingga generasi muda. Untuk bersama-sama mengangkat nilai budaya dan ekonomi dari pangan lokal.

“Melalui kekuatan pangan lokal, kita dapat membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Karena itu, berbagai kegiatan telah kami siapkan untuk mengangkat nilai budaya sekaligus nilai ekonomi sagu,” ujar Michael.

Agenda utama festival adalah Seminar Nasional Sagu Papua yang akan menghadirkan akademisi dari Universitas Cenderawasih.

Selanjutnya, peserta akan membahas berbagai strategi pengembangan, pelestarian, dan pemanfaatan sagu sebagai komoditas unggulan Papua di masa depan.

Selain seminar, FCS 2026 juga menjadi panggung bagi generasi muda melalui Lomba Menulis Esai tentang Sagu melibatkan pelajar dan mahasiswa.

Para finalis yang telah lolos seleksi akan mempresentasikan karya mereka selama festival berlangsung.

“Ini menjadi wadah bagi generasi muda menyampaikan gagasan, inovasi, dan perhatian mereka terhadap masa depan sagu di Papua,” kata Michael.

Kunjungan Edukatif dan Penanaman

Tak hanya itu, festival juga akan diisi dengan kunjungan edukatif ke kawasan hutan sagu. Selanjutnya penanaman bibit sagu di Kampung Skouw Yambe, Distrik Muara Tami.

Kapolresta Jayapura Kota juga menjelaskan, kegiatan ini menjadi kampanye  pelestarian sagu yang  menghadapi  tantangan akibat pesatnya pembangunan perkotaan.

“Rencananya ada kunjungan ke lahan sagu di Kampung Skouw Yambe yang merupakan lahan milik Wali Kota Jayapura, Bapak Abisai Rollo. Beliau mendukung kegiatan penanaman sagu sebagai bagian dari upaya pelestarian pangan lokal,” ungkapnya.

Ia menilai perkembangan Kota Jayapura yang semakin pesat berdampak pada berkurangnya ruang hidup hutan dan lahan sagu.

Karena itu, perlu perhatian serius dari pemerintah, masyarakat, serta pemilik hak ulayat untuk menjaga keberlangsungan ekosistem sagu di Tanah Tabi.

“Kami berharap ada perhatian bersama untuk menjaga keberadaan sagu. Pemerintah Kota Jayapura dan para pemilik hak ulayat berperan penting memastikan sagu  tumbuh dan berkembang di Tanah Tabi,” ujarnya lagi.

Menurut Fredrickus, sagu tidak hanya memiliki nilai budaya. Tetapi juga berpotensi besar menjadi solusi ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat.

Karena itu, FCS menjadi sarana edukasi, pemberdayaan UMKM, serta penguatan ekonomi lokal berbasis potensi daerah.

FCS menjadi agenda tahun untuk melestarikan pangan lokal sebagai identitas budaya, memberdayakan UMKM. Juga, kampanye sagu sebagai pangan masa depan yang memiliki manfaat besar bagi ketahanan pangan.

“Sagu adalah kita. Sagu penting bagi kehidupan dan sagu harus tetap memiliki ruang di atas Tanah Tabi,” tegas Fredrickus.

Melalui FCS 2026, masyarakat Kota Jayapura dan sekitarnya akan semakin mengenal, mencintai, serta memanfaatkan sagu sebagai warisan budaya.

Dan di sisi lain,  mampu menciptakan kesejahteraan berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun masa depan.(ARS)