Sorot Masa Depan Adat Sentani
FOTO: Ketua Panitia bersama jajaran Panitia Pelaksana Konferensi DASS Phuyakha menggelar rapat perdana persiapan konferensi, Jumat (21/8/2026).(ARS)
SENTANI, Klikjo.id –Panitia Pelaksana Konferensi Dewan Adat Suku Sentani (DASS) Phuyakha mematangkan persiapan konferensi, pada Jumat (21/8/2026).
Rapat perdana berlangsung di Obhe Helebhey Wabhou, Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.
Selain panitia, juga hadir Ondofolo, Khoselo, Abhu Afaa, koordinator seksi dan sejumlah tokoh masyarakat adat.
Karena itu, rapat itu menjadi langkah awal untuk mengatur tahapan, pembagian tugas serta program kerja setiap seksi.
Ketua Panitia Konferensi DASS Phuyakha, Melki Suebu, mengatakan seluruh panitia siap menjalankan kepercayaan para Ondofolo Suku Sentani.
Menurut Melki, memberikan kepercayaan kepada para Ondofolo sesuai hasil pembicaraan pada 24 Juli 2026 lalu, di Kampung Hobong, Distrik Ebungfauw.
“Seluruh Ondofolo mempercayakan enam orang anak Suku Sentani kepada kami,” kata Melki.
Mereka mendapat mandat untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan Konferensi DASS Phuyakha hingga pelaksanaan pada 24 September 2026 mendatang.
Selanjutnya, Melki berharap konferensi menjadi momentum mengevaluasi perjalanan DASS sejak berdiri pada awal tahun 2000 hingga sekarang.
Menurut dia, masyarakat adat Suku Sentani belum merasakan perubahan signifikan selama perjalanan DASS hingga memasuki 2026.
Karena itu, dia berhaap konferensi mampu menghasilkan pembenahan sekaligus menentukan arah perjuangan masyarakat adat Suku Sentani.
“Harapannya, melalui kepemimpinan dan kepengurusan DASS yang baru, kita dapat mempersiapkan masa depan Sentani,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberadaan masyarakat adat di atas tanah dan airnya hingga generasi mendatang.
Perjuangkan Hak Adat
Selain kepemimpinan, konferensi akan membahas perjuangan hak masyarakat adat, termasuk tanah, keberlangsungan adat serta budaya Suku Sentani.
Melki menilai perlu membenahi berbagai pergeseran tradisi agar mewariskan adat dan budaya leluhur kepada generasi muda.
“Kami berharap dapat memperbaiki dan meluruskan kembali sesuai adat dan budaya leluhur,” pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Panitia Konferensi DASS Phuyakha, Kristian Epa, memastikan seluruh koordinator seksi siap menjalankan tugas masing-masing.
Kristian menyebut kepanitiaan melibatkan Bendahara Barnabas Nukuboy, Koordinator Usaha Dana Ramses Wally serta Koordinator Acara dr. Jhon Manangsang Wally.
Selain itu, mempercayakan Esau Kaway sebagai Koordinator Transportasi dan Akomodasi untuk mendukung kelancaran pelaksanaan konferensi.
Konferensi DASS Phuyakha mengusung tema “Raiwu, Raiwani dan Raiwali” yang bermakna tanah, air dan kehidupan masyarakat adat.
Menurut Kristian, tema menggambarkan hubungan erat masyarakat adat Suku Sentani dengan tanah, air dan kehidupannya.
Juga, memaknai sebagai “Kami Punya Tanah, Kami Punya Air dan Kami Punya Kehidupan.”
Selanjutnya, jadwal Konferensi DASS Phuyakha berlangsung 24 September 2026 di Obhe Helebhey Wabhou, Kampung Sereh.
Konferensi ini menjadi momentum konsolidasi, pembenahan kelembagaan dan penentuan arah perjuangan masyarakat adat Suku Sentani.
Selain itu, forum akan menentukan arah kepemimpinan DASS serta memperkuat perlindungan adat dan budaya Sentani.
Dengan demikian, harapannya, hasil konferensi mampu menjawab kebutuhan masyarakat adat sekaligus menjaga keberlanjutan Sentani bagi generasi mendatang.(ARS)

Tinggalkan Balasan