Dipulangkan Saat Kondisi Belum Pulih

Foto: Siswi kelas VI SD, korban dugaan keracunan MBG Depapre, bersama orang tuanya saat diwawancarai di rumah mereka.(ARS)

SENTANI, Klikjo.id – Orang tua (Ortu) Yanti, siswi kelas VI SD YPK Wibro 1 Tablasupa, kecewa setelah anaknya dipulangkan dari posko medis saat kondisinya belum pulih.

Salumi Serontou, ibu Yanti, mengatakan putrinya masih mengalami sakit perut, sakit kepala, pusing, lemas, diare, dan sulit makan.

Yanti sebelumnya menjalani perawatan setelah mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa itu terjadi Selasa (4/8/2026), setelah Yanti menyantap menu MBG di sekolahnya, Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.

Awalnya, Yanti hanya mengeluhkan sakit perut sehingga keluarga membawanya ke Puskesmas Dosay karena Puskesmas Depapre sedang penuh.

Setelah mendapat pemeriksaan dan obat pereda nyeri, Yanti diperbolehkan pulang. Namun, kondisinya memburuk pada malam hari.

Yanti kemudian mengalami demam tinggi dan menggigil sehingga kembali dibawa ke Puskesmas Depapre untuk mendapatkan perawatan di posko korban MBG.

Menurut Salumi, hasil pemeriksaan darah juga menunjukkan Yanti positif malaria tropika sehingga mendapat infus dan pengobatan.

Namun, Salumi menilai kondisi putrinya belum pulih ketika petugas medis menyatakan Yanti dapat dipulangkan pada Kamis (6/8/2026).

“Petugas bilang sudah tidak ada keluhan. Tetapi anak saya masih sakit perut, sakit kepala, pusing, lemas, dan nafsu makannya belum normal,” kata Salumi kepada wartawan, Jumat (7/8/2026).

Tak Ada Pemberitahuan

Ia mengaku sedang keluar membeli makanan ketika petugas melepas infus Yanti dan memulangkannya.

Saat kembali ke posko, Salumi terkejut karena infus putrinya sudah dilepas tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada keluarga.

Dalam perjalanan menuju Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Yanti kembali muntah sebanyak empat kali dengan cairan berwarna hijau kekuningan.

Setibanya di rumah, kondisi Yanti belum membaik. Ia masih mengalami diare, sakit kepala, pusing, serta kesulitan makan akibat sakit perut.

Karena itu, keluarga kembali membawa Yanti ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan pada Jumat (7/8/2026).

Yanti mengatakan dirinya hanya menghabiskan nasi, tempe, telur, dan sayur dari menu MBG yang diterimanya di sekolah.

Sementara itu, potongan semangka yang menjadi bagian menu MBG tidak dimakannya.

Salumi berharap seluruh anak yang menjadi korban dugaan keracunan
MBG mendapat penanganan medis hingga kondisinya benar-benar pulih.

“Saya berharap semua anak diperhatikan sama rata. Jangan dipulangkan sebelum benar-benar sembuh agar mereka bisa kembali sekolah dan bermain seperti biasa,” ujarnya.

Selain itu, Salumi meminta pemerintah dan tim medis mengevaluasi penanganan korban agar keselamatan serta kondisi kesehatan anak menjadi prioritas.

“Ini menyangkut kesehatan dan nyawa anak-anak. Saya berharap mereka benar-benar pulih sebelum pulang,” pungkasnya.

Hingga berita ini naik, wartawan klikjo.id masih melakukan upaya konfirmasi pihak pengelola SPPG, bahkan sudah menghubungi via WhatsApp dan telepon seluler namun belum ada jawaban.(ARS)