DPRK Jayapura Desak DLH Gerak Cepat

Foto Galeri: Tumpukan sampah  di sejumlah titik  jalan protokol Sentani, dari Hawai hingga Doyo Baru, memicu bau tak sedap  (Dok. Klikjo.id)

SENTANI, Klikjo.id – Kota Sentani,  Jayapura, menghadapi darurat sampah, bahkan sejumlah titik jalan protokol jadi tempat pembuangan sampah sementara (TPS).

Pantauan wartawan hingga Senin (1/6/2026), tumpukan sampah ada di berbagai titik sepanjang jalan protokol, kawasan pasar, dan pusat keramaian.

Hal ini, membuat wajah ibu kota Kabupaten Jayapura  semrawut, dan tampak kumuh. Selain itu, merusak gerbang utama Provinsi Papua.

Sesuai pantauan, sampah menumpuk dari kawasan  Hawai hingga Doyo Baru. Di sejumlah titik, sampah bahkan mulai membusuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap yang mengganggu pengguna jalan, pedagang, serta warga sekitar.

Selain merusak estetika kota,  sampah juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan bagi masyarakat sekitar dan pengguna jalan.

Warga mengaku kondisi ini telah berlangsung selama beberapa waktu. Namun, hingga kini penanganannya belum maksimal sehingga tumpukan sampah makin bertambah.

Minim Armada Pengangkut Sampah

Minimnya armada pengangkut serta belum optimalnya sistem pengelolaan sampah menjadi penyebab utama persoalan ini.

Ketua Komisi D DPRK Kabupaten Jayapura, Mashita KS Idar,  mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura gerak cepat (Gercep).

Selanjutnya  mengerahkan seluruh armada  untuk mengangkut sampah yang  menumpuk di pinggir jalan.

Selain itu, ia meminta pemerintah daerah segera mengevaluasi sistem pengelolaan sampah, dan jadwal pengangkutan dan penambahan Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Menurutnya, pemerintah juga perlu memperkuat edukasi kepada masyarakat sekaligus menegakkan aturan bagi pihak yang membuang sampah sembarangan.

“Kota Sentani adalah gerbang utama memasuki Provinsi Papua melalui Bandara Sentani. Sangat memalukan jika kesan pertama  adalah kota yang kotor dan penuh sampah. Tidak bisa tunda lagi,” tegas Mashita.

Di sisi lain,  penumpukan sampah bisa menyumbat saluran drainase pada musim hujan.  Dan bisa menimbulkan bencana banjir serta menjadi sumber penyebaran penyakit dan mengganggu kualitas lingkungan.(ARS)