Foto : Korban Roy Manampiring semasa hidup.
PAPUA, KLIKJO.ID–Yofani Lintjewas (30-an) bersama tiga anaknya, warga Desa Pinili Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara, tak menyangka suaminya Roy Manampiring (42) menjadi korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua, pada Sabtu (16/7/2022) lalu.
Yofani saat dihubungi wartawan Klikjo.Id, pada Rabu (20/7/2022), berharap jenasah suaminya Roy Manampiring dipulangkan dan akan dikubur di kampung halamannya Desa Pinili.
“Saya dan ketiga anak, juga keluarga besar sangat berharap sekali akan kepulangan suami dan papa dari anak-anak (Roy Manampiring) ke rumah, walaupun sudah terbujur kaku tapi mohon kepada pemerintah di Kabupaten Nduga, tolong dipulangkan, karena, kami sangat menantikan kepulangannya,” ujar Fany dengan terbata-bata, menahan tangis.
Fanny menambahkan, dia dan ketiga anaknya merasa sangat terpukul mendengar Roy menjadi korban penembakan. Apalagi keberangkatan Roy ke tanah Papua tujuannya bekerja sebagai operator tukang kayu atau mencari uang untuk biaya sekolah anaknya.
“Keluarga besar sudah ikhlas menerima pergumulan ini, namun harapan kami pemerintah Kabupaten Nduga, Provinsi Papua dan Pemkab Minut serta Pemprov Sulut bisa memfasilitasi memulangkan jenazah korban,” pinta Fanny.
Yofani juga menjelaskan, pada Sabtu (16/7/2022) akhir pekan lalu, dia dan keluarga mendapatkan informasi bahwa suaminya Roy adalah salah satu korban penembakan di kabupaten Nduga dan informasinya masih simpang siur.
Kemudian pada Rabu (20/7/2022) pagi sekitar pukul 09:00 Wita, kembali menerima telepon dari pihak Puskesmas Nduga.
“Mereka menanyakan ciri-ciri korban penembakan dan ketika saya menjawab semua pertanyaan dari pihak Puskesmas, mereka mengatakan itu adalah benar suami saya Roy,” ujarnya dengan nada sedih.
Salah satu kerabat korban, Anita Manampiring, melalui status FB mengungkapkan kesedihannya, “Roi, Ngana bilang somo pulang.. Kypa nda sampe – sampe. Ngna mo pulang deng cara bagini dang dua Minggu lalu ngna ada ba tlfn pa kita kasiang ndak sempat angka dari ada di duka” (Roy, kamu bilang akan segera pulang, tapi kenapa tidak kunjung tiba. Ternyata kamu mau kembali dengan cara begini. Maaf dua minggu lalu kamu telepon tapi tidak sempat ku angkat karena ada di acara duka).
Sementara itu Fredrik Longdong mewakili Pemerintah Desa Pinili membenarkan bahwa, Roy Manampiring benar adalah warga Desa Pinili. Bahkan pihaknya sudah melapor ke Kecamatan dan Bupati Minut.
“Selaku aparat Desa sangat berharap untuk jenasah almarhum Roy Manampiring dipulangkan, agar supaya istri dan anak-anak almarhum dan juga keluarga besar bisa tenang,” tutup Longdong.(Arifin)

Tinggalkan Balasan