Kondisi itu diperparah dengan serbuan media sosial (medsos) yang melakukan gempuran informasi, kendati informasi yang di-share itu sangat tidak akurat atau meragukan. Celakanya, ada media cetak yang akhirnya latah dengan mencontek “gaya” medsos.
Namun, menariknya, dahsyatnya “perang” antara media massa versus media sosial itu ternyata tidak serta merta mampu “melenyapkan” media cetak, meski ada yang terpaksa eksis seadanya sebagai media cetak dan ada juga yang eksis dengan “berubah” menjadi online/digital.
Agaknya, pilihan “berubah” dengan menjadi media cetak yang eksis seadanya dan menjadi media online agaknya sudah merupakan pilihan yang “luar biasa” karena mereka tetap bisa bertahan, meski satunya bertahan secara fisik dan satu lagi bertahan secara “jiwa”.
Pilihan terakhir, bertahan secara “jiwa”, mungkin saja menghindari “kesulitan” biaya untuk tampil fisik/cetak, namun masuknya media arus utama ke dunia digital justru menguntungkan publik, karena warga digital yang biasa menerima informasi tidak akurat akhirnya menjadi punya pilihan informasi (yang akurat).
Yang penting, mereka terbukti mampu bertahan dalam “peperangan” itu, meski media cetak yang eksis seadanya dan media cetak yang menjadi online. Hal yang sama juga dialami media massa besar dunia, seperti New York Times, Washington Post, The Guardian, dan lainnya.

Tinggalkan Balasan