Hamdi, salah satu dari mereka, bercerita lirih soal detik-detik penuh kecemasan. “Saya sempat menggendong bayi tiga bulan yang dititipkan ayahnya. Tapi karena panik, saya kembalikan ke seorang ibu, lalu bantu mereka turun ke air,” tuturnya pelan.
Valen, Riklan, dan Marcel menambahkan kisah heroik lainnya. Mereka menyebut bagaimana dalam keputusasaan, keempatnya bahu-membahu membantu para penumpang lai memberi pelampung, menenangkan yang panik, bahkan mendekati mereka yang berteriak meminta tolong.
Mario mendengarkan semua kisah itu tanpa menyela. Tak ada kalimat panjang yang keluar darinya, hanya tatapan yang menguatkan. “Apa yang kalian lakukan luar biasa,” ucapnya dengan nada tulus. “Bertahan hidup saja sudah sulit, tapi kalian masih sempat menolong orang lain. Itu pahlawan sejati.”
Usai makan siang bersama, Mario menyerahkan bantuan berupa pakaian dan uang tunai. Bukan karena nilai materinya besar, tetapi karena kehadirannya menegaskan satu hal, mereka tidak sendirian.
Mario memang dikenal sebagai menantu Bupati Minsel dua periode, Frangky Wongkar. Namun hari itu, ia datang sebagai Mario, seorang manusia yang datang membawa harapan di tengah luka.
“Semoga ini bisa sedikit meringankan beban dan menjadi pengingat bahwa ada banyak yang peduli,” katanya saat berpamitan.
Bagi Hamdi, Valen, Riklan, dan Marcel, momen itu terasa seperti pelukan hangat setelah badai panjang. “Kami tidak akan lupa hari ini,” bisik Marcel. Senyumnya yang sebelumnya tertahan di balik trauma akhirnya merekah.
Tragedi KM Barcelona mungkin telah meninggalkan luka, tetapi di balik luka itu, hadir pula secercah cahaya: bahwa di tengah kegelapan, manusia masih bisa jadi terang bagi sesamanya.(WEN/**)

Tinggalkan Balasan