“Daerah melawan Jakarta”, ini bermula pada janji pembangunan yang tak kunjung sampai ke wilayah timur Indonesia saat itu. Dan pada pertengahan 1950-an, para perwira dan pemimpin daerah di Indonesia Timur mulai gelisah.
Mereka melihat pembangunan dan alokasi anggaran lebih banyak mengalir ke Jawa, sementara daerah luar, khususnya Sulawesi Utara, merasa seperti “penyumbang tanpa penghargaan”.
Tokoh-tokoh seperti Letkol Ventje Sumual, Letkol Alex Kawilarang, hingga J. H. Manoppo menilai Jakarta tidak hanya bias Jawa, tetapi gagal menangkap denyut kebutuhan daerah.
Permesta lahir dari rasa frustrasi, bukan ambisi separatis, sebagaimana ditulis Barbara S. Harvey dalam Permesta, Pemberontakan Setengah Hati.
Piagam Perjuangan Semest sebagai gerakan koreksi, bukan gerakan merdeka, dimana pada 2 Maret 1957 lahirlah Piagam Perjuangan Semesta di Makassar.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan