Operasi Militer 1958–1961, Pertempuran yang Sering Diakhiri Negosiasi, dimana Saat pemerintah pusat melancarkan operasi militer, bentrokan terjadi di berbagai titik di Minahasa dan Sulawesi Utara.
Namun catatan Letkol R. Hartono menyebut banyak perwira dari kedua pihak saling mengenal, bahkan pernah berdinas bersama. Karena itu, sejumlah operasi dilakukan dengan hati-hati, menghindari korban sipil.
Rekonsiliasi, Luka yang Menjadi Pelajaran, pada 1961, proses rekonsiliasi dimulai. Tokoh Permesta seperti Ventje Sumual dan Alex Kawilarang kembali ke pangkuan Republik.
Babak ini memperlihatkan bahwa negara muda itu sedang belajar mengelola, ketimpangan pembangunan, komunikasi pusat–daerah yang lemah, politik militer yang rentan kepentingan, serta tekanan geopolitik asing.
Permesta bukan semata cerita “pemberontakan”, melainkan cermin dari pergulatan Indonesia untuk membangun kesetaraan dari pinggiran.
Para perwiranya tetap berjiwa republik; rakyat Manado tetap nasionalis. Mereka tidak ingin memisahkan diri mereka ingin didengar.
Sumber Referensi Utama, (Disusun dari berbagai dokumen dan literatur sejarah, antara lain karya Barbara S. Harvey, Audrey & George Kahin, A. E. Kawilarang, Jenderal A. H. Nasution, Arsip Nasional RI, FRUS, dan catatan operasi TNI AD.).
Disarikan dari unggahan FB Rapakat (21/10/2025).
(TIM/**)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan