“Sebuah Kritik Terapan dan Relevan”
Foto : Dokumen arsip Piagam Perjuangan Semesta (Permesta) 1957. Piagam ini menjadi landasan gerakan yang menuntut pemerataan pembangunan dan desentralisasi di Indonesia Timur.(Ist/dok)
MANADO, Klikjo.id –Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Permesta kerap ditulis sebagai “pemberontakan daerah” yang ingin memisahkan diri dari Republik.
Jika ditelisik dari sisi akademis ini merupakan “sebuah kritik terapan dan relevan” di era-nya.
Bahkan di era modern dan digitalisasi ini, semangat Permesta masih mumpuni, tentu dengan kritik positif, konstruktif atau membangun, tanpa mengabaikan undang-undang dan regulasi serta semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Lebih jauh, pembentukan Permesta kala itu, lantaran terdapat lapisan persoalan yang lebih kompleks diantaranya, kekecewaan struktural, intrik antar-jenderal, hingga intervensi asing yang menyeret Indonesia “muda” ke pusaran geopolitik.
“Daerah melawan Jakarta”, ini bermula pada janji pembangunan yang tak kunjung sampai ke wilayah timur Indonesia saat itu. Dan pada pertengahan 1950-an, para perwira dan pemimpin daerah di Indonesia Timur mulai gelisah.
Mereka melihat pembangunan dan alokasi anggaran lebih banyak mengalir ke Jawa, sementara daerah luar, khususnya Sulawesi Utara, merasa seperti “penyumbang tanpa penghargaan”.
Tokoh-tokoh seperti Letkol Ventje Sumual, Letkol Alex Kawilarang, hingga J. H. Manoppo menilai Jakarta tidak hanya bias Jawa, tetapi gagal menangkap denyut kebutuhan daerah.
Permesta lahir dari rasa frustrasi, bukan ambisi separatis, sebagaimana ditulis Barbara S. Harvey dalam Permesta, Pemberontakan Setengah Hati.
Piagam Perjuangan Semest sebagai gerakan koreksi, bukan gerakan merdeka, dimana pada 2 Maret 1957 lahirlah Piagam Perjuangan Semesta di Makassar.
Isi piagam mencakup tuntutan mengenai, desentralisasi, pemerataan pembangunan, perbaikan anggaran militer, dan profesionalisasi Angkatan Darat.
Tidak ada satu pasal pun yang menyerukan pemisahan diri. Permesta memposisikan diri sebagai gerakan penyeimbang, bukan pemberontakan separatis layaknya DI/TII atau RMS. Analisis Audrey R. Kahin dan George Kahin mempertegas bahwa Permesta adalah “kritik struktural” terhadap pusat.
Rivalitas Para Jenderal adalah sisi yang terlupakan, ketegangan internal Angkatan Darat menjadi sisi lain dari dinamika Permesta. Alm. Jenderal A. H. Nasution ingin mengembalikan kendali komando ke pusat. Sebaliknya, perwira daerah terutama Kawilarang merasa kebijakan mutasi dan promosi diwarnai kepentingan politik.
Dalam memoarnya untuk Sang Merah Putih, Kawilarang mengakui bahwa kritiknya mengenai gaya kepemimpinan pusat yang “terlalu Jawa-sentris” menimbulkan ketidaknyamanan di lingkaran elite militer.
Ketika Geopolitik masuk, CIA dan Perang Dingin di Sulawesi dimulai, dimana, pada 1958 situasi berubah drastis. Permesta mendapat dukungan rahasia dari CIA sebagai bagian dari strategi Amerika Serikat membendung komunisme. Konflik memuncak ketika pesawat bomber B-26 yang dipiloti tentara bayaran AS, Allen Lawrence Pope, ditembak jatuh AURI di Ambon.
Kehadiran Pope membuka tabir bahwa Permesta terseret ke panggung Perang Dingin sebuah dinamika yang bahkan tidak diperkirakan para perwiranya.
Suara dari Manado “Kami Tidak Ingin Merdeka, Kami Ingin Didengar”. Meski Manado menjadi pusat gerakan, para tokoh gereja, pedagang, dan pemuda menyatakan kesetiaan pada Republik. Banyak delegasi dikirim ke Jakarta untuk menjaga komunikasi. Hubungan rakyat dengan pemerintah pusat tetap terjaga, menepis anggapan bahwa Permesta identik dengan separatisme.
Operasi Militer 1958–1961, Pertempuran yang Sering Diakhiri Negosiasi, dimana Saat pemerintah pusat melancarkan operasi militer, bentrokan terjadi di berbagai titik di Minahasa dan Sulawesi Utara.
Namun catatan Letkol R. Hartono menyebut banyak perwira dari kedua pihak saling mengenal, bahkan pernah berdinas bersama. Karena itu, sejumlah operasi dilakukan dengan hati-hati, menghindari korban sipil.
Rekonsiliasi, Luka yang Menjadi Pelajaran, pada 1961, proses rekonsiliasi dimulai. Tokoh Permesta seperti Ventje Sumual dan Alex Kawilarang kembali ke pangkuan Republik.
Babak ini memperlihatkan bahwa negara muda itu sedang belajar mengelola, ketimpangan pembangunan, komunikasi pusat–daerah yang lemah, politik militer yang rentan kepentingan, serta tekanan geopolitik asing.
Permesta bukan semata cerita “pemberontakan”, melainkan cermin dari pergulatan Indonesia untuk membangun kesetaraan dari pinggiran.
Para perwiranya tetap berjiwa republik; rakyat Manado tetap nasionalis. Mereka tidak ingin memisahkan diri mereka ingin didengar.
Sumber Referensi Utama, (Disusun dari berbagai dokumen dan literatur sejarah, antara lain karya Barbara S. Harvey, Audrey & George Kahin, A. E. Kawilarang, Jenderal A. H. Nasution, Arsip Nasional RI, FRUS, dan catatan operasi TNI AD.).
Disarikan dari unggahan FB Rapakat (21/10/2025).
(TIM/**)