FOTO: Wamenpar Ni Luh Enik Ermawati, Gubernur Papua Matius D. Fakhiri dan Bupati Jayapura Yunus Wonda di atas perahu bersama penari Isosolo di Dermaga Pantai Kalkote. (ARS)
SENTANI, Klikjo.id — Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati mengapresiasi Bupati Jayapura Yunus Wonda yang menghidupkan budaya lokal melalui Festival Danau Sentani XV.
Apresiasi itu disampaikan Ni Luh setelah menyaksikan langsung atraksi budaya masyarakat adat Sentani pada pembukaan FDS XV, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan berlangsung di kawasan Pantai Kalkote, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua.
Usai membuka festival, Ni Luh bersama Gubernur Papua Matius D. Fakhiri dan Yunus Wonda menaiki perahu menuju lokasi atraksi Isosolo.
Dari atas perahu, rombongan menyaksikan penampilan para penari Isosolo yang membawakan tradisi masyarakat adat Sentani di perairan Danau Sentani.
Selanjutnya, rombongan melihat pengolahan sagu secara tradisional serta proses masyarakat mengambil ulat sagu dari batang pohon.
Menurut Wamenpar, atraksi ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menggambarkan kehidupan dan pengetahuan lokal masyarakat Sentani.
“ Saya senang sekali hari ini bisa membuka FDS ke-15, yang merupakan bagian dari Kharisma Event Nusantara,” ujar Ni Luh.
Ia menilai keberlanjutan FDS sebagai bagian Kharisma Event Nusantara penting untuk memperkenalkan budaya serta potensi pariwisata Papua.
Karena itu, Ni Luh berharap FDS berkembang dengan menghadirkan atraksi khas yang memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan.
Tampilkan Budaya Adat Sentani
Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang menyaksikan festival, tetapi juga mengenal kehidupan dan budaya masyarakat adat Sentani.
Ni Luh menjelaskan, setiap event yang masuk Kharisma Event Nusantara melalui proses kurasi oleh tim independen.
Salah satu perhatian utama kurasi ialah keterlibatan UMKM, pelaku seni, serta masyarakat lokal dalam penyelenggaraan kegiatan.
“Tahun ini kami menargetkan perputaran ekonomi Rp21 triliun dari 125 Kharisma Event Nusantara, dengan lebih dari 10 juta kunjungan wisatawan,” katanya.
Menurut Ni Luh, keterlibatan masyarakat adat menjadi kekuatan utama FDS karena menghadirkan pengalaman budaya yang autentik bagi wisatawan.
Di sisi lain, atraksi Isosolo pengolahan sagu, hingga pengenalan ulat sagu juga berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Selain itu, Ni Luh mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Jayapura yang sudah menata FDS agar memberikan dampak ekonomi lebih luas.
“Untuk penyelenggaraan berikutnya, saya mendorong pengembangan atraksi wisata yang semakin beragam tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat adat Sentani,” katanya.
Ni Luh juga meminta pemerintah daerah mengintegrasikan berbagai event pariwisata di sejumlah kabupaten Papua.
Menurutnya lagi, integrasi ini dapat memperbanyak pilihan wisata sekaligus mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka di Papua.
Misalnya hadir di Danau Sentani, mereka bisa menghadiri beberapa event menarik.
“Selamat kepada Pak Bupati dan juga kepada panitia penyelenggara Festival Danau Sentani,” pungkasnya. (ARS)

Tinggalkan Balasan