Foto: Konferensi IV Dewan Adat Suku Sentani berlangsung lancar dan dibuka Staf Ahli Gubernur Papua Osea Murib, Kamis (24/9/2026).

SENTANI, Klikjo.id  –Konferensi IV Dewan Adat Suku Sentani (DASS) resmi dimulai di Heleybhey Obhe, Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (24/9/2026).

Forum ini menjadi momentum masyarakat adat Sentani memperkuat persatuan, menjaga nilai budaya, serta menentukan arah organisasi DASS ke depan bersama.

Staf Ahli Gubernur Papua Bidang Pengembangan Otonomi Khusus Osea Murib membuka konferensi sekaligus membacakan sambutan Gubernur Papua Matius D. Fakhiri.

Gubernur Papua menegaskan konferensi bukan sekadar forum organisasi, melainkan ruang memperkuat persaudaraan dan nilai adat masyarakat Sentani setempat.

Gubernur menjelaskan, DASS berdiri sejak 25 April 2002 dan menjadi wadah penting memperkuat kemitraan masyarakat adat bersama pemerintah daerah setempat.

Harapannya, kepengurusan baru mampu menjaga DASS sebagai wadah berhimpun para Ondoafi, Ondofolo, kepala suku, dan masyarakat adat Sentani.

Selain itu, DASS  tetap menjadi payung kepentingan masyarakat adat Sentani, sekaligus membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak.

Menurut Gubernur, DASS berperan sebagai penyeimbang, perantara, dan penyelaras antara pemerintah, masyarakat adat, serta masyarakat Nusantara lainnya secara berkelanjutan kembali.

Hal ini pula, semakin penting setelah Kabupaten Jayapura menyelenggarakan Festival Danau Sentani XV 2026 sebagai ruang pelestarian budaya lokal masyarakat.

Karena itu, kepengurusan baru DASS  membangun kerja nyata dan bersinergi dengan berbagai pihak untuk memperkuat pelestarian adat Sentani bersama.

Buka Manfaat Ekonomi Masyarakat

Di sisi lain, pelestarian adat dan budaya juga nantinya mampu membuka manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat adat di kampung-kampung Kabupaten Jayapura secara berkelanjutan.

Gubernur mengapresiasi Bupati Jayapura atas perhatian untuk pembangunan kantor atau Obhe bagi organisasi adat di tiga wilayah utama masyarakat.

Meliputi, Dafonsoro Utara, Grime Nawa, dan Sentani, yang masing-masing memiliki organisasi adat sebagai bagian penting masyarakat adat.

Melalui konferensi ini, Gubernur berharap peserta menghasilkan keputusan yang baik, dan serta rencana pembangunan dan penetapan kantor DASS Sentani mendatang nanti.

Lebih lanjut, Gubernur menegaskan tanggung jawab menjaga eksistensi masyarakat adat berada pada seluruh pihak secara bersama dan berkelanjutan demi kepentingan.

DASS juga memiliki tugas menata norma adat, melindungi lingkungan hidup, serta mendorong kehidupan masyarakat yang bermartabat, maju, mandiri, dan sejahtera.

Selain itu, DASS nantinya menjadi perekat persaudaraan masyarakat Sentani dan mitra pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan bersama.

Gubernur mengajak masyarakat menjadikan konferensi sebagai momentum memperkuat persatuan, menjaga adat dan lingkungan, serta menyiapkan masa depan generasi muda Sentani.

Semangat ini sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Papua, yakni mewujudkan Transformasi Papua yang Cerdas, Sejahtera dan Harmoni atau Papua CERAH.

“Pembangunan Papua,  mencakup infrastruktur dan ekonomi, sekaligus menjaga identitas, budaya, lingkungan, persaudaraan, serta ruang bermartabat bagi masyarakat setempat,” ujarnya.

Di sisi lain, Gubernur mengingatkan filosofi masyarakat Sentani melalui ungkapan Mey Bhu, Mey Khani, Mey Wali sebagai pedoman kehidupan bersama.

“Ini bermakna airku, tanahku, dan hidupku, yang diharapkan menjadi nilai nyata dalam kehidupan masyarakat Sentani sehari-hari dan generasi muda,” ujarnya.

Harapan kedepan, hasil konferensi ini memperkuat DASS, menjaga adat dan budaya, serta mempererat kemitraan pemerintah dengan masyarakat adat Sentani.(ARS)