MANADO, klikjo.id — Peta kekuatan politik Partai Golkar Sulawesi Utara resmi memasuki fase baru. Dengan penunjukan Christiany Eugenia Paruntu (CEP) sebagai Pembina, setelah menuntaskan masa jabatannya sebagai Ketua DPD I.
Penetapan dalam Musyawarah Daerah Partai Golkar Sulawesi Utara 2026, di Hotel Grand Kawanua pada 12 April 2026.
Dalam forum itu, dukungan kepada CEP mengalir kuat. Ketua-ketua DPD II dari 15 kabupaten/kota serta organisasi sayap, seperti SOKSI, Kosgoro 1957, dan Angkatan Muda Partai Golkar, secara bulat mendorong penunjukan itu.
Namun demikian, Musda ini tidak hanya berbicara soal posisi pembina. Sebaliknya, forum juga menetapkan Michaela Elsiana Paruntu (MEP) sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulut periode 2026–2031 secara aklamasi.
Langkah ini sekaligus menandai estafet kepemimpinan di tubuh Golkar Sulut. Di satu sisi, penunjukan CEP sebagai pembina sangat strategis. Sebab, dalam tradisi Partai Golkar, posisi itu bukan sekadar simbolis.
Sebaliknya, pembina berperan sebagai jangkar moral sekaligus penentu arah strategis organisasi.
Selain itu, dukungan penuh dari struktur partai mempertegas bahwa CEP masih menjadi figur sentral dengan legitimasi kuat di internal.
Hal ini menjadi krusial, setelah dinamika politik regional meningkat pasca Pemilu dan Pilkada.
Di sisi lain, terpilihnya MEP membuka ruang regenerasi Z . Dimana generasi Z adalah kelompok manusia yang lahir antara tahun 1995-2012, juga, sebagai digital native karena tumbuh bersama teknologi internet, smartphone, dan media sosial sejak kecil.
Menjaga Elektabilitas
Namun, bersamaan dengan itu, muncul pula tantangan konsolidasi yang tidak ringan.
MEP kini tidak hanya mewarisi struktur partai yang solid. Lebih dari itu, ia juga memikul ekspektasi tinggi untuk menjaga bahkan meningkatkan elektabilitas Golkar di Sulawesi Utara.
Karena itu, sinergi antara MEP sebagai nahkoda baru dan CEP sebagai pembina menjadi kunci utama.
Dengan kata lain, kombinasi pengalaman dan regenerasi ini harus mampu menjaga stabilitas internal sekaligus memperkuat daya tawar politik partai.
Lebih jauh, Musda kali ini bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan.
Sebaliknya, ini menjadi titik konsolidasi kekuatan politik Golkar Sulut ke depan.
Melalui konfigurasi baru, Partai Golkar mengirim sinyal kuat. Partai berlambang pohon beringin ini, tengah bersiap menghadapi kontestasi politik berikutnya dengan formasi yang lebih solid, dan berlapis.
Pada akhirnya CEP dan MEP kokoh, karena sang kakak menjaga alur politik tingkat nasional dan sang adik menjaga stabilitas koalisi daerah demi memajukan Sulut bersama Gubernur Yulius Selvianus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay.

Tinggalkan Balasan