Foto: Nampak pekerja OAP dan Kepala SPPG saat beraktivitas di Dapur MBG SPPG Nolokla, Kampung Harapan, Jumat (2/10/2026). (ARS)

SENTANI TIMUR, Klikjo.id –Sebanyak 480 SPPG di 16 provinsi wilayah timur Indonesia diaktifkan dari Nolokla Kampung Harapan, Sentani Timur,  Jayapura.

Asisten I Setda Provinsi Papua Yohanes Walilo bersama Direktur Penyediaan dan Pelayanan Gizi Nasional (BGN) Wilayah II Nurjaeni, langsung memimpin seremoni pengaktifan pada Jumat (2/10/2026).

Hadir, pejabat pemerintah daerah serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten dan Kota Jayapura.

SPPG Nolokla dikelola Yayasan Harapan Papua Apmili Inamendek dan selanjutnya akan menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi masyarakat di Sentani Timur.

Ketua SPPG Yayasan Harapan Papua Apmili Inamendek, Dionisius Armando Gontadoridagul, mengaku bersyukur atas kepercayaan.

“SPPG kami di Kampung Harapan, Nolokla, mendapatkan kepercayaan untuk peluncuran 480 SPPG se-Indonesia di wilayah timur,” ujar Dionisius kepada wartawan.

Setelah seremoni pengguntingan pita, SPPG Nolokla  mulai beroperasi pada pekan depan setelah proses pencairan dana operasional selesai.

Layani 1.200 Penerima Manfaat

Dionisius menjelaskan, sesuai proyeksi SPPG Nolokla  melayani sekitar 1.200 penerima manfaat dari sejumlah satuan pendidikan dan posyandu.

Sasaran mencakup SMA Negeri 2, SMA Negeri 3, satu sekolah dasar, empat PAUD, serta lima posyandu di Distrik Sentani Timur.

Dari total penerima manfaat, sekitar 900 orang berasal dari lingkungan sekolah, sedangkan sisanya merupakan penerima manfaat dari posyandu.

“Untuk sasaran penerima manfaat, kami akan melayani SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3, kemudian satu SD serta empat PAUD,” jelas Dionisius.

Selain itu, pelayanan akan diperluas ke lima posyandu yang berada di wilayah Distrik Sentani Timur.
Utamakan Pangan Lokal

Gunakan Bahan Pangan Lokal

Dalam pelaksanaan program MBG, SPPG Nolokla akan mengutamakan penggunaan bahan pangan lokal dari Kabupaten Jayapura.

Namun, seluruh bahan pangan tetap melalui proses seleksi dan penyortiran untuk memastikan kualitas serta keamanan sesuai standar.

“Semua petani tentu memiliki hasil yang baik, tetapi kami harus memilih bahan baku yang paling memenuhi standar,” kata Dionisius.

Menurut dia, standar penting karena  yang menkonsumsi makanan  masyarakat, khususnya anak-anak penerima manfaat program MBG.

Untuk menu perdana, SPPG Nolokla menyiapkan ayam katsu dan buah semangka. Selanjutnya, menu akan  bervariasi agar penerima manfaat tidak mendapatkan makanan yang monoton.

Dionisius menegaskan, kegiatan Jumat  masih sebatas seremoni sehingga SPPG Nolokla belum sepenuhnya beroperasi.

“Setelah dana turun, kami akan segera memulai operasional. Kami berharap mulai minggu depan pelayanan MBG di SPPG Nolokla sudah berjalan normal,” ujarnya.
32 dari 47 Relawan Merupakan OAP

OAP Prioritas Jadi Tenaga Kerja

Selain pelayanan gizi, SPPG Nolokla juga memberikan ruang bagi Orang Asli Papua (OAP) dalam perekrutan tenaga kerja.

Dari 47 relawan, sebanyak 32 orang merupakan OAP, sedangkan 15 lainnya merupakan non-OAP.

Meski demikian, seluruh proses perekrutan tetap  melalui tahapan seleksi berdasarkan kebutuhan dan standar pekerjaan di SPPG.

Dionisius mengatakan, tenaga kerja OAP yang belum memiliki sertifikasi atau keterampilan akan mendapatkan pembinaan serta pelatihan secara bertahap.

“Prinsipnya bukan hanya merekrut, tetapi juga membentuk dan meningkatkan kemampuan tenaga kerja OAP agar memenuhi standar,” katanya.

Harapannya, tenaga kerja OAP memiliki kesempatan berkembang dan mengisi posisi yang lebih tinggi sesuai kemampuan.
Salah satu relawan SPPG Nolokla, Dorce Marta Mehue, mengaku bersyukur mendapat kesempatan bekerja di dapur MBG.

“Saya merasa bersyukur bisa bekerja di SPPG Nolokla. Saya juga berterima kasih karena mendapat kesempatan menjadi relawan di dapur ini,” ujarnya.

Sebagai orang asli Sentani Timur, Dorce menyampaikan apresiasi atas kesempatan  dalam program pemenuhan gizi.

Ia berharap seluruh relawan dapat menjalankan tugas dengan baik dan berkontribusi bagi pemenuhan gizi anak-anak di Distrik Sentani Timur.

“Kami sebagai orang asli Papua harus bekerja dengan sebaik-baiknya demi kemajuan anak-anak bangsa, lebih khusus di wilayah Distrik Sentani Timur,” pungkasnya.(ARS)