Foto: Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kabupaten Jayapura, Samiyanan Sambodo.

Sentani,  Klikjo.Id–Induatri Cokelat Kabupaten Jayapura siap diproduksi. Sayangnya, ketersedian kakao basah yang siap produksi masih minim hanya sekitar 20 Ton. 

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kabupaten Jayapura, Samiyanan Sambodo mengakui produksi Kakao di jayapura saat ini menurun lantaran sebagian diserang hama.
 “Dari 14 ribu hektar kebun Kakao yang tersebar di Kabupaten jayapura, wilayah Pembangunan III dikelolah  1.200 petani kakao, sebagian terserang hama dan rusak, saat ini tersisa 3.500 hektar yang produktif,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan terbesar ini pihaknya sedang melakukan revitalisasi tanaman kakao dan juga intensifikasi, serta replanting. Tentunya dengan dukungan para penyuluh yang melakukan pendampingan langsung kepada para petani. 

“Ada juga pihak pengepul langsung beli ke petani, dan membawa keluar hasil produksi secara diam-diam. Oleh sebab itu, butuh kerjasama dengan pihak karantina untuk menyelidiki jalur-jalur yang digunakan oleh para pengepul ini,” katanya. 

Dikatakan, mesin produksi  yang dimiliki masih standart atau untuk produksi dalam jumlah yang banyak belum bisa dilakukan, demikian juga tempat penampungan bahan baku seperti biji coklat yang basah juga masih terbilang belum mampu dalam jumlah yang banyak.  

“Setelah melewati proses pengeringan dan  fermentasi, hasil produksi dari 20 ton biji kakao basah pasti juga sedikit. Ini langkah awal untuk melihat pasar dan animo masyarakat,” ujar Sambodo.
Theopilus Tegay, Kepala Dinas Perinduatrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jayapura mengatakan, sentra produksi kakao ini akan berjalan setelah melengkapi persayaratan pihak BPOM. 

Standart dan mutu sebuah produk perlu diperhatikan dengan baik, fasilitas pendukungnya juga menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kerja produksi.
“Butuh sinergi dari petani, pengepul, tempat tampung hingga para pekerja di sentra produksi sudah siap baru bisa jalan, ” tandasnya. (Arifin*)