Foto: Mama Lina Suabrah, pengrajin asal Biak Numfor, menjajakan kerajinan khas Papua di Festival Danau Sentani (FDS) XV 2026.(ARS)

SENTANI, Klikjo.id – Festival Danau Sentani (FDS) XV 2026 membuka peluang ekonomi bagi mama-mama Papua melalui kerajinan dan kuliner lokal.

Salah satunya Mama Lina Suabrah, pengrajin asal Biak Numfor yang datang ke Sentani bersama rekannya, Berta Koybur.

Mereka menempuh perjalanan menggunakan kapal penumpang setelah mengetahui FDS XV berlangsung di Kabupaten Jayapura, Jumat (28/8/2026).

“Nama saya Lina Suabrah. Saya datang dari Biak untuk berjualan di festival ini,” kata Lina di lokasi festival.

Menurut Lina, kerajinan dan aksesori menjadi bagian dari ekonomi kreatif  perempuan di Kabupaten Biak Numfor.

Karena itu, ia melihat FDS sebagai peluang memasarkan produk sekaligus mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Kalau ada kegiatan begini, kita ikut supaya ada berkat yang dibawa pulang untuk anak-anak,” tuturnya.

Lina mengaku telah lama menekuni usaha kerajinan dan bahkan mengikuti Festival Danau Sentani sejak penyelenggaraan awal.

“Dulu FDS pertama, kedua, ketiga sampai keempat saya ikut jualan. Saya juga pernah mendapat penghargaan,” ungkapnya.

Setelah lama tidak mengikuti FDS, Lina kembali ke Sentani tahun ini setelah menerima informasi serta brosur pelaksanaan FDS XV.

Sebelum berangkat, ia sempat membawa kerajinan ke Sorong, kemudian kembali ke Biak untuk melanjutkan perjalanan menuju Sentani.

Menariknya, Lina tidak hanya membawa produk jadi, tetapi juga bahan baku untuk memenuhi pesanan aksesori dari pembeli.

“Kalau ada yang pesan, baru kami kerjakan. Bisa malam sampai subuh supaya pagi sudah selesai,” jelasnya.

Namun, Lina mengakui penjualan FDS XV belum seramai kegiatan sebelumnya karena jumlah pengunjung turut memengaruhi pendapatannya.

“Dulu sehari bisa satu sampai dua juta. Sekarang kadang sepi. Kemarin cuma sekitar Rp30 ribu,” katanya.

Waktu yang Nyaman Melayani

Menurut Lina, cuaca panas juga membuatnya memilih berjualan mulai sore hingga malam agar lebih nyaman melayani pembeli.

“Biasanya mulai sekitar setengah lima sore. Jadi tidak setiap saat kami buka,” ujarnya.

Meski begitu, Lina tetap bersyukur karena FDS kembali memberikan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan produk Papua.

Ia berharap pemerintah memperkuat promosi sekaligus menyediakan tempat berjualan yang layak bagi mama-mama Papua.

“Pemerintah bisa membantu mama-mama yang punya keterampilan, terutama promosi dan tempat yang layak,” harapnya.

Lina juga mengaku telah memiliki legalitas usaha dari Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dan pernah mengikuti pelatihan keterampilan kelompok PKK.

Kini, ia terus menekuni usaha kerajinan sekaligus berdagang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Pokoknya untuk ekonomi keluarga, mendukung dan membantu keluarga,” pungkas Lina.

Sementara itu, Mama Dorci Nere memanfaatkan FDS untuk mengembangkan usaha makanan lokal di kawasan Kalkote, Kabupaten Jayapura.

Warga sekitar lokasi Pra-FDS 2026 tersebut sebelumnya menjual ikan danau segar kepada masyarakat di sekitar kawasan Kalkote.

“Biasanya ikan diangkat dari jaring, langsung dijual di depan,” kata Dorci saat ditemui di lapaknya.

Namun, kehadiran festival membuat Dorci mengembangkan dagangannya dengan mengolah ikan danau menjadi makanan siap santap.

Kini, ia menjual ikan goreng bersama papeda bungkus, singkong, keladi, sayuran, sambal, bumbu, dan berbagai panganan lokal.

Tambahan Pendapatan Keluarga

Menurut Dorci, perubahan cara berjualan tersebut memberikan tambahan pendapatan bagi keluarganya selama kegiatan festival berlangsung.

“Lumayan,” ungkapnya ketika menceritakan hasil penjualan selama berada di lokasi festival.

Dorci pun bersyukur Pemerintah Kabupaten Jayapura kembali menggelar Festival Danau Sentani yang memberikan ruang bagi masyarakat kecil.

“Bersyukur, sangat bersyukur,” katanya.
Karena itu, Dorci berharap kegiatan FDS terus berlangsung setiap tahun sehingga masyarakat sekitar memperoleh peluang ekonomi secara berkelanjutan.

“Harapan saya, kegiatan seperti ini setiap tahun ada. Karena sangat membantu,” ujarnya.

Bagi Dorci, lokasi festival yang dekat dengan rumah semakin memudahkan dirinya mengembangkan usaha tanpa meninggalkan aktivitas sehari-hari.

Jika sebelumnya ia hanya menjual ikan mentah dan segar, kini ia juga menawarkan ikan danau goreng kepada pengunjung.

“Biasanya jual ikan mentah dan segar langsung dari danau. Tapi di sini juga jual ikan goreng,” jelasnya.

Dorci berharap FDS ke depan tidak hanya mempromosikan budaya dan pariwisata, tetapi juga memperluas ruang usaha masyarakat lokal.

Dengan begitu, manfaat ekonomi festival dapat dirasakan langsung keluarga-keluarga yang tinggal di sekitar kawasan Danau Sentani.

Kisah Mama Lina dan Mama Dorci menunjukkan sisi lain Festival Danau Sentani yang tidak hanya menghadirkan budaya serta pariwisata.

Di balik kemeriahan FDS XV, mama-mama Papua memanfaatkan peluang untuk berjualan, memperkenalkan produk lokal, sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.

Mama Lina datang jauh dari Biak membawa kerajinan, sedangkan Mama Dorci mengolah ikan Danau Sentani menjadi kuliner siap santap.

Keduanya memiliki tujuan serupa, yakni memanfaatkan momentum festival untuk memperoleh penghasilan sekaligus mencari “berkat” bagi keluarga.

Dengan demikian, FDS XV tidak hanya menjadi panggung budaya, tetapi juga ruang ekonomi bagi masyarakat Papua. (ARS)