FOTO: Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menabuh tifa saat membuka Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Wilayah Mamta–Tabi.(Ist)
JAYAPURA, Klikjo.id –Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menegaskan masyarakat adat harus menjadi subjek utama dalam menentukan arah pembangunan di Tanah Papua.
Hal ini, disampaikan MDF saat membuka Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Wilayah Mamta–Tabi di Hotel Suni Sentani.
Berlangsung di Kabupaten Jayapura, Rabu (7/10/2026), dengan melibatkan masyarakat adat, pemuda, pemerintah, legislatif, tokoh masyarakat, serta akademisi.

Hadir, Bupati Jayapura, pimpinan dan anggota MRP, DPRP, DPR RI, DPD RI, serta DPRK se-Tanah Tabi.
Hadir pula kepala daerah se-Tanah Tabi, Ketua Umum Dewan Adat Papua, Ketua Dewan Adat Papua Wilayah Mamta–Tabi, serta tokoh masyarakat.
Juga, tokoh perempuan, pemuda adat, akademisi, serta berbagai organisasi masyarakat di Papua.
Gubernur Papua Matius D. Fakhiri membuka dan mengawali kegiatan konferensi dengan menabuh tifa.
Menurutnya, pembangunan Papua tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi harus melindungi manusia serta lingkungan.
Penghormatan Adat Sejalan Perlindungan Lingkungan
Selain itu, penghormatan kepada adat dan budaya harus berjalan bersama perlindungan tanah, hutan, serta seluruh sumber daya alam.
“Masyarakat adat bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi merupakan subjek penting dalam menentukan arah pembangunan di Tanah Papua,” tegas MDF.
Karena itu, MDF mengapresiasi Dewan Adat Papua Wilayah Mamta–Tabi dan panitia yang menggagas konferensi sebagai ruang konsolidasi.
Di sisi lain, Ia menilai forum ini penting untuk memperkuat konsolidasi, menyampaikan aspirasi, sekaligus membahas hak masyarakat adat dan keberlanjutan lingkungan.
Selanjutnya, MDF menekankan pemuda adat memiliki peran strategis sebagai kekuatan perubahan dalam menghadapi perkembangan zaman di Tanah Papua.
Pemuda, kata dia, harus mempertahankan identitas, adat, dan budaya, sekaligus mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan sosial.
Harapannya, konferensi tidak berhenti sebagai forum diskusi, melainkan menghasilkan rekomendasi dan komitmen nyata.
“Semoga hasil konferensi ini dapat menjadi rekomendasi dan komitmen bersama ,” harapnya.
Menurut MDF, semangat ini sejalan dengan visi Papua CERAH, yakni Cerdas, Sejahtera, dan Harmonis dalam pembangunan berkelanjutan.
Visi ini mendorong pembangunan yang tetap menghormati adat, budaya, lingkungan, hukum, serta nilai persaudaraan masyarakat Papua.(ARS)

Tinggalkan Balasan